Wednesday, March 6, 2019

Madrid Terpuruk, Ternyata Sudah Diprediksi Zidane Dari Awal Tahun Lalu

Madrid Terpuruk - Kekalahan dari Ajax Amsterdam kian memperburuk musim Real Madrid. Kemunduran yang sebetulnya sudah ditebak Zinedine Zidane sejak mula tahun lalu.



Madrid tersingkir dari Liga Champions sesudah kalah 1-4 dari Ajax di leg kedua babak 16 besar, Rabu (6/3/2019) pagi-pagi sekali WIB tadi. El Real kalah agregat total 3-5 sebab cuma menang 2-1 pada leg kesatu.


Kekalahan tersebut makin memilukan sebab terjadi di Santiago Bernabeu yang mana dengan kata lain dalam empat pertandingan di semua kompetisi, Madrid selalu kembali dengan kepala tertunduk. Di samping itu, tidak sedikit catatan buruk yang didapat Madrid usai kekalahan dari Ajax ini.


Tapi, yang tentu kekalahan ini kian menegaskan musim 2018/2019 ialah salah satu yang terkelam dalam sejarah klub raksasa Spanyol itu. Dua kekalahan kandang terbesar di Liga Champions diderita musim ini, sesudah sebelumnya diungguli CSKA Moskow 0-3.


Di samping itu, semua pemain Madrid pun laksana kehilangan akal untuk melakukan sesuatu di atas lapangan dan membetulkan penampilan tim. Ini laksana jadi puncak atas kekacauan yang terjadi semenjak kemenangan di final Liga Champions musim lalu.


Zinedine Zidane mundur dari posisinya sejumlah hari sesudah Madrid mengungguli Liverpool di final. Lalu di pertengahan bulan Juni, Madrid mendapat pukulan telak lainnya saat Cristiano Ronaldo pergi.


Kehilangan dua tokoh penting sekaligus tersebut sudah jadi pertanda musim Madrid akan tidak baik dan kekalahan dari Ajax membuktikannya. Madrid tersingkir dari Liga Champions dan Copa del Rey dalam sepekan. Madrid boleh dibilang akan hampa gelar sebab sulit memburu selisih 12 poin dari Barcelona di LaLiga.


Mudah sebenarnya menyaksikan apa masalah Madrid musim ini saat mereka tak coba menyebabkan pemain bintang di bursa transfer. Memang kepandaian Florentino Perez yang lebih mengkhususkan pemain muda demi masa mendatang tim patut diacungi jempol, namun tentu susah diterima nalar saat Madrid tak menggali pengganti Ronaldo yang masing-masing musim bisa buat minimal 50 gol.


Itulah yang jadi masalah utama Madrid saat ketiadaan mesin gol plus semua pemain bintang yang mulai menua serta hilang motivasi menciptakan mereka terpuruk. Nama-nama laksana Marcelo, Karim Benzema, Gareth Bale. Toni Kroos, Nacho, Casemiro, Sergio Ramos, dan Luka Modric pun tampil buruk. Kedatangan Thibaut Courtois juga tak tidak sedikit membantu.


Hal tersebut yang dialami Zidane di musim terakhirnya mengajar Madrid. Berstatus double winner, juara LaLiga dan Liga Champions, Zidane sebenarnya perlu pemain bintang baru demi menyegarkan tim laksana Kylian Mbappe, Neymar, Eden Hazard, atau Miralem Pjanic, namun Perez cuma menyebabkan Theo Hernandez, Dani Ceballos, Jesus Vallejo, dan Borja Mayoral.


Alhasil, Madrid keteteran di persaingan lokal dan kesudahannya kalah dari Barca di LaLiga. Sementara di Copa del Rey, Madrid disingkirkan Leganes di perempatfinal dan masih berturut-turut bisa meraih gelar Liga Champions.


Kekalahan dari Leganes itulah yang jadi titik di mana Zidane merasa butuh adanya evolusi di dalam kesebelasan dan ketika urusan tersebut tidak dilaksanakan sekalipun dia telah pergi, maka hasilnya dapat terlihat dari Madrid musim ini.


"Tentu saja terdapat saatnya di mana terdapat perubahan, tapi guna kami semua, tidak saja pelatih. Memang belum, tapi urusan tersebut pasti bakal terjadi," ujar Zidane pada 17 Februari 2018 dan satu tahun kemudian, ucapannya terbukti benar.

No comments:

Post a Comment